Siapa Yang Menanam Dia Akan Memetik

 

Belajar Menanam Sejak Dinipada umumnya ketika mendengar kata sekolah mindset kita akan selalu terpokus pada pelajaran Matematika, IPA, IPS, bahasa Dll dan proses belajar dalam ruangan (Formal).padahal tidak hanya pengetahuan yang bersifat teori, sekolah juga diimbau untuk mengenalkan siswa-siswa kealam terbuka alias langsung praktek di lingkungan nyata, seperti yang dilakukan oleh Siswa-siswi SD Fatih Bilingual School diawal bulan Mei 2017 ini. mereka mengadakan program belajar tentang bercocok tanam dan langsung di praktekan di lingkungan perkebunan Fatih Bilingual School.#SD_Fatih_Bercocok_Tanam

Posted by Fatih Bilingual School on 2017 m. gegužės 2 d.

Matahari baru naik sepengala, sinarnya yang terik di musim kemarau cukup menyengat sehingga membuat kita mengeryitkan dahi meski waktu baru menunjukan pukul 08:30 WIB. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat siswa siswa Sekolah Dasar (SD) Fatih Billingual school untuk bercocok tanam di sepetak kebun yang ada di pojokan sekolah pada hari rabu (3/5). Kok siswa malah bercocok tanam di kebun bukannya belajar di kelas?.

Di Fatih Billingual School,sistem belajar mengajar dikemas dengan cara yang kreatif dan menarik  untuk menarik minat belajar peserta didik untuk belajar. Terutama untuk pendidikan dasar bagi anak-anak yang masih suka bermain dari pada belajar, jika pola belajarnya membosankan maka jangan salahkan siswa jika  mereka lebih pilih bermain dari pada belajar. Belajar tidak hanya di kelas, baca buku yang tebal dan memusingkan yang dapat mengerutkan dahi, mengingat dan menghapal rumus matematikan yang kian dihapal kian sulit. Belajar di luar kelas bisa menjadi solusinya.

Untuk anak seusia sekolah dasar yang rasa pengetahuan mereka masih tinggi dan masih aktif mencari tahu. Mereka tidak cukup diajari hanya dengan teori saja tetapi mereka membutuhkan praktek untuk untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Belajar di luar kelas seperti berkebun yang dilakukan oleh siswa siswi SD Fatih Billingual School merupakan pola pengajaran yang edukatif, krreatif dan menyenangkan bagi para siswa.

Alasan menggapa mereka di ajak berkebun, bukan karena mereka ingin dijadikan petani atau hukuman bolos sekolah melainkan proses pengenalan awal bagi para anak-anak bagaimana cara bercocok tanam. Dibawah bimbingan dan arahan para guru, mereka diajarkan proses dalam berkebun mulai dari menanam, merawat sampai memanen hasil kebun. Dalam  kesempatan kali ini para siswa dikomandoi langsung oleh Pak Fikri selaku guru Penjaskes di Fatih Billingual School mengajarkan mereka cara menanam bawang. Ya, bawang yang sering kita jumpai sehari-hari yang menjadi penyedap masakan.

Belajar dengan cara seperti ini, tidak hanya memberikan pengetahuan tentang cara berkebun kepada para siswa tetapi ada penjajaran moralnya juga yang didapat. Kok bisa berkebun ada moral-moralnya segala?. Jawabannya bisa. Melalui kegiatan ini sendiri para guru akan menanamkan pendidikan moral yaitu menghargai proses. Selama ini kita hanya tahu bahwa bawang yang digunakan itu bisa didapat dengan mudah dipasar. Tapi sebenarnya tidak semuda itu bagaimana dalam proses dari penanaman sampai pemanenannya sendiri membutuhkan waktu yang lama belum lagi kegagalan-kegagalan yang harus dialami selama proses itu sendiri. Begitupun dengan kehidupan dan keinginan kita bahwa semuanya itu tidak dapat diproleh dengan hal yang instan tetapi butuh proses untuk meraihnya. Seperti pepatah “siapa yang menanam dialah yang akam memetik”

Pendidikan moral kepada siswa dengan cara seperti ini akan lebih cepat diterima oleh para siswa karena merekan mersakan sendiri dan mengalaminya, hal ini akan tertaman dalam diri para siswa dan kemudian hari para siswa akan memetik manisnya buah pelajaran moral yang telah mereka dapatkan.